Archive for the ‘Weblogs’ Category

Indonesia sebagai Negara Federasi?

Sunday, June 8th, 2008

Selang empat hari setelah Perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional, pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang naiknya harga BBM. Slogan Indonesia Bisa yang didengungkan secara serentak dalam perayaan seremonial nan agung di Gelora Bung Karno seolah-olah menguap begitu saja karena gelombang demonstrasi dari kalangan mahasiswa dan rakyat yang menentang pemerintah atas kebijakan tersebut. Sebuah ironikah? Semoga Indonesia benar-benar BISA, dan bukannya ABIS.

Lemahnya Asketisme Publik

Kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM memang merupakan sebuah kebijakan yang amat logis mengingat harga minyak dunia saat ini masih diatas harga yang ditentukan oleh pemerintah setelah dinaikkan. Justru gelombang demonstrasi yang diadakan oleh para mahasiswa dan para politisi yang mengatasnamakan pejuang rakyat tampak sebagai sebuah keputusan yang amat tergesa-gesa. Memang dampak kenaikan harga BBM ini akan mempengaruhi kenaikan harga-harga barang-barang lainnya, terutama harga bahan pokok. Namun menolak kenaikan harga BBM juga bukanlah sebuah solusi yang bijaksana bagi kelangsungan hidup masyarakat selanjutnya. Letak persoalan yang terjadi adalah pada sisi keadilan sosial yang masih amat lemah di negeri ini. Hal inilah seharusnya yang diperjuangkan oleh para mahasiswa dan para politisi yang mengatasnamakan dirinya pejuang bagi rakyat.

Kenaikan harga BBM dirasakan seperti kehilangan sebuah selendang bagi seorang anak kecil dari sang ibu, sebagaimana diungkapkan oleh Saya Sasaki Shiraisi dalam bukunya Pahlawan-pahlawan Belia (Gramedia: 2001). Kehilangan selendang yang selalu memberi kehangatan dan kenyamanan selalu terasa menyesakkan. Namun begitulah gaya politik Orde Baru. Selama selendang itu diberikan dalam bentuk kemudahan-kemudahan ekonomis yang bersumber dari utang luar negeri, rakyat menganggap pemerintah sebagai seorang bapak yang baik, yang melindungi dan memperhatikan rakyatnya. Dengan begitu, rakyat merasa nyaman dengan hidupnya tanpa mengetahui bahwa dibalik itu terdapat pengebirian masa depan yang membuat kemandirian dan asketisme publik menjadi mandul. Selain itu, utang luar negeri yang telah menumpuk dibebankan pada generasi yang akan datang tanpa mengindahkan suatu tanggungjawab terhadap masa depan. Dan ketika tiba waktunya untuk mempertanggungjawabkan situasi kenyamanan hasil dari utang tersebut terkuak, rakyat yang seperti anak kecil ini menangis keras dan menuntut kembali selendang yang selama ini selalu melindungi dan menghangatkannya. Kepercayaan terhadap sang bapak pun luntur hingga lahirlah pemberontakan-pemberontakan kecil yang mulai menggerogoti sendi-sendi kebangsaan. Pemerintah dan rakyat seakan berada dalam posisi rival yang tak lagi menampakkan sebuah demokrasi yang adil. Peran pemerintah sebagai pelayan publik pun hilang, tergantikan oleh image penguasa yang tak lagi peduli dengan nasib rakyatnya. Hal ini didukung dengan lemahnya pemerintah dalam mengusahakan pemerataan kesejahteraan sosial. Asketisme yang terjadi hanya dalam tataran rakyat kecil. Dalam hal ini, rakyat kecillah yang selalu mengusung sikap-sikap asketis sebab memang secara struktural mereka berada pada sisi korban.

Ironi lemahnya pemerataan kesejahteraan dan asketisme publik ini tampak dalam realitas bahwa bangsa Indonesia ini menjadi area ekspansi penjajahan politik ekonomi dari negara-negara maju dengan multinational corporation-nya. Politik ekonomi dari negara-negara maju seperti Jepang, Korea, Amerika dan negara-negara Eropa itu menjadikan rakyat Indonesia sebagai rakyat konsumeris yang hanya mampu mengkonsumsi. Sungguh ironis ketika melihat kenaikan harga BBM diimbangi dengan banjirnya iklan sepeda motor dan mobil keluaran Jepang, Amerika, India, Cina dan negara-negara maju lainnya. Sungguh ironi ketika memperjuangkan keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia diimbangi dengan munculnya katedral-katedral perbelanjaan yang pesat lagi megah di penjuru-penjuru kota di Indonesia, bahkan termasuk di kota kecil. Sungguh ironi ketika ajakan untuk menjadi bangsa yang mandiri diimbangi dengan munculnya perusahaan-perusahaan asing yang mengeksploitasi kekayaan alam seperti tambang emas di Papua dan perusahaan air minum di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa kebijakan ini tampak sebagai sebuah gejala pembangunan yang berat sebelah, tidak memperhatikan rakyat kebanyakan yang secara struktural tergolong miskin dan belum mandiri. Maka tidak heran ketika muncul pemberontakan-pemberontakan kecil seperti pembajakan, tingginya tingkat kriminalitas, munculnya kelompok-kelompok oposisi pemerintah, dan separatisme. Dari pemberontakan-pemberontakan itu, tampaklah bahwa pembangunan segi spiritual, moral dan mental dari bangsa ini masih teramat lemah. Kiranya krisis ekologis yang terjadi pun menjadi dampak dari lemahnya pembangunan dalam sisi ini. Lemahnya asketisme publik (bangsa) menjadi salah satu indikasinya.

Persatuan yang dipaksakan

Lahirnya nasionalisme Indonesia yang kemudian diperingati sebagai lahirnya kebangkitan Nasional oleh organisasi Budi Oetomo pada tahun 1908 pun berawal dari sebuah ide tentang kebangkitan nasionalisme Jawa. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam Budi Oetomo pun awalnya merupakan sebuah kelompok intelektual Jawa berpendidikan Belanda yang menyerukan diadakannya kembali kebudayaan Jawa pada akhir tahun 1910-an (Saya Shiraisi: 124). Dengan demikian, apakah dapat disebut sebagai sebuah kebangkitan Nasional jika tujuan awal dan nafas perjuangan itu hanya dimiliki oleh golongan intelektual dengan ciri khas perjuangan nasionalisme Jawa? Lalu apakah yang disebut sebagai Nasionalisme Indonesia?

Beruntunglah bangsa Indonesia memiliki Soekarno-Hatta yang dengan kepemimpinan kharismatis serta kelihaian retorikanya mampu menciptakan Pancasila sebagai ideologi nasionalisme yang mengedepankan persatuan dari sebuah negeri multikultur ini. Embrio nasionalisme yang mulai muncul era Budi Oetomo dan menampakkan diri dalam Sumpah Pemuda ini lahir dengan wujud Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika-nya sebagai kalimat sakti yang takkan pernah bisa digulingkan, bahkan oleh kudeta tahun 1965. Dalam hal ini, rakyat yang beranekaragam itu dimasukkan ke dalam suatu kandang besar persatuan yang mewajibkan mereka semua menyerahkan diri untuk menerima ideologi sebagai sebuah bangsa. Akhirnya rakyatlah yang menjadi korban, dan selalu menjadi korban sebagaimana pembantaian massal yang terjadi pada tahun 1965. Pemerintahan yang terjadi bukanlah pemerintahan dari rakyat untuk rakyat tetapi pemerintahan dari golongan intelektual yang mengebiri dan mengorbankan rakyat dengan selendang persatuan dan kesatuan. Hal yang sama terjadi pada era Orde Baru dan Orde reformasi dimana pemerintah adalah kaum militer dan perkawinan antara intelektual bernuansa agamis-pengusaha. Sekali lagi, rakyat diandaikan menerima segala macam jargon dan birokrasi elitis yang dibentuk oleh kelompok-kelompok tersebut. Selendang demi selendang diberikan bagi rakyat agar melihat dan terus menganggap pemerintah sebagai seorang bapak yang baik, yang selalu memperhatikan kebutuhan rakyatnya, tanpa sungguh-sungguh ‘membangun’ rakyat.

Sebuah era Baru

Sebuah era baru muncul ketika rakyat mulai menyadari dirinya sebagai bagian dari korban pengebirian lewat selendang-selendang ini. Ketika sedikit demi sedikit selendang mulai dilepaskan oleh era pemerintahan pasca Orde Baru, rakyat mulai menyadari selama ini proses demokrasi Indonesia sebenarnya belum sepenuhnya menemukan realitas idealnya. Hilangnya sosok seorang bapak pemerintahan yang baik sekaligus keras di masa Orde Baru telah membuat rakyat mulai berpikir dari dirinya sendiri, seperti halnya seorang anak yang mulai beranjak dewasa. Meski demikian, bom waktu rapuhnya pembangunan sisi spiritual, mental dan moral yang ditinggalkan oleh era Orde Lama dan Orde Baru mulai meledak saat ini. Demokrasi yang telah dibangun diatas dasar kharisma ideologi Pancasila era Orde Lama dan kharisma bapak yang baik lagi keras era Orde Baru seolah luruh. Bangsa Indonesia seolah harus belajar dari awal lagi tentang demokrasi, mengingat sisa-sisa dominasi Orde Lama dan Orde Baru masih berusaha memegang kendali kekuasaan. Pergerakan mahasiswa yang terjadi pun tidak lebih sekedar sebuah pergerakan yang tidak didasari oleh kuatnya pembangunan spiritual, mental dan moral. Hal ini diindikasikan dengan identiknya politik dan kekerasan yang terjadi di Indonesia (Orde Baru lahir dengan peristiwa kudeta tahun 1965 dan Orde Reformasi lahir dengan peristiwa kerusuhan 1998). Termasuk juga adanya indikasi bahwa nasionalisme persatuan yang didengungkan sejak Bhinekka Tunggal Ika karena persatuan terkesan dipaksakan dan begitu rapuh (Lepasnya Timor-Timur, GAM, Papua Merdeka, RMS dan ide dicantumkannya Syariat Islam dalam UUD).

Namun beruntunglah bangsa Indonesia memiliki rakyat yang memiliki tradisi keutamaan masyarakat yang luhur. Semangat untuk hidup sosial yang tinggi serta kemauan untuk belajar dari sejarah telah membuat rakyat mulai bangkit dari pengebirian selendang-selendang yang ada selama ini. Usaha-usaha yang muncul dari kalangan akar rumput (masyarakat lokal) dengan segala karakter sosialnya mulai menampakkan diri untuk terlibat dalam memikirkan hidup bersama. Munculnya berbagai macam partai politik saat ini dapat dilihat secara positif sebagai sebuah kebangkitan rakyat dalam hidup berbangsa. Keberanian dalam menyatakan diri berbeda dengan kelompok atau masyarakat lain dengan jiwa besar untuk menghargai perbedaan itu menjadi indikasi yang jelas adanya kebangkitan ini. Kemandirian untuk menentukan nasib sendiri secara bersama-sama mulai mengalahkan rasa ketakutan dan kemandulan idealisme akibat kenyamanan selendang yang telah dirasakan selama ini. Rakyat Indonesia sekarang ini bukanlah rakyat Indonesia Orde Lama maupun Orde Baru

Indonesia sebagai Negara Federasi

Pola kehidupan politik era Orde Lama dan Orde Baru yang menggunakan sistem kekeluargaan dimana pemerintah berperan sebagai bapak yang baik ini masih berlanjut hingga saat ini. Hal ini membuat rakyat dan pemerintah menjadi dua kubu yang saling berbeda secara struktural yakni pemerintah sebagai bapak dan rakyatlah anaknya. Pola ini menempatkan posisi pemerintah pada penentu utama dalam menerapkan kebijakan publik yang direpresentasikan oleh para wakil rakyat. Pada prakteknya, para wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat pun dengan mudahnya melupakan perannya sebagai wakil rakyat dengan sungguh ketika sudah menempati posisi pemerintahan. Di Indonesia, praktek semacam ini wajar karena mereka memperoleh posisi tersebut pun tidak murni berasal dari suara hati nurani rakyat tetapi dengan membayar suara rakyat agar menempatkan mereka dalam posisi tersebut. Rakyat pun dengan mudahnya menerima situasi ini karena mereka menerima selendang-selendang yang dapat membuat hidup mereka sejahtera untuk sementara waktu. Dan apabila akhirnya pihak wakil rakyat tidak sungguh-sungguh memberikan selendang-selendang itu di kemudian hari, maka dengan sendirinya rakyat tidak akan kembali memilihnya. Inilah kelemahan sistem politik yang telah berjalan sedemikian lama di dalam negeri ini. Sebuah politik yang hanya berdasarkan pada hasrat semata. Hal yang sama terjadi pada program BLT (Bantuan Tunai Langsung) dari pemerintahan sekarang ini sebagai kompensasi atas naiknya harga BBM, tak ubahnya sebagai sebuah selendang.

Apabila pola tersebut masih saja menjadi dasar dari sistem demokrasi di negeri ini, maka proses pendewasaan politik hidup berbangsa tidak akan pernah terjadi. Keanekaragaman yang ada akan terus berada dalam situasi ketertindasan ataupun bisa berubah menjadi anarki. Terlebih lagi, cita-cita keadilan sosial akan berhenti sebagai utopia yang berkedok pemuasan hasrat terus menerus. Untuk itu, kiranya dapat dipikirkan kembali tentang perubahan sistem pemerintahan dari pemerintahan sentralistik kesatuan menjadi pemerintahan desentralisasi melalui federasi. Sudah saatnya masyarakat lokal sebagai rakyat yang sebenarnya diberi kesempatan untuk memikirkan masyarakat lokalnya yang unik. Sudah saatnya pola bapak-anak dilepaskan dari sistem politik Indonesia dengan memberi kesempatan kepada masing-masing wilayah berskala lokal untuk mengatur hidupnya secara mandiri. Pemerintah pusat berkepentingan hanya untuk mengatur hubungan dengan luar negeri dan kebijakan-kebijakan yang menyangkut solidaritas serta subsidiaritas dari masing-masing wilayah lokal tersebut. Dengan demikian, proses pendewasaan publik dalam hidup bersama (pembangunan spiritual, mental dan moral yang sesuai dengan local wisdom) akan berjalan secara mandiri, merata dan didasari dengan persatuan yang bukan hasil manipulasi.

Mewujudkan Keadilan Sosial Indonesia

Perubahan sistem pemerintahan dari negara kesatuan menjadi negera federasi ini hanya merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Keadilan sosial selama ini praktis menjadi masalah utama dalam hidup berbangsa dan bernegara. Kebangkitan nasional setidaknya harus ditandai dengan terwujudnya keadilan sosial yang selama ini masih sekedar utopia. Masyarakat miskin dari tahun ke tahun bukannya semakin menurun secara kuantitatif tetapi justru semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Masih banyaknya pengangguran, masyarakat dengan gizi buruk, tidak terprogramnya sistem pendidikan yang adil dalam praktek Ujian Nasional, krisis ekologi oleh perusahaan-perusahaan berskala nasional yang merugikan rakyat lokal seperti Lapindo, dan tidak terjaminnya hak-hak kaum buruh dapat menjadi salah satu indikasi bahwa keadilan sosial di Indonesia masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Meski demikian, harapan akan selalu ada. Salah satu usaha lain yang dapat dilakukan adalah pemberdayaan bersama masyarakat dalam membangun sisi spiritual, mental dan moral berdasarkan pada penghargaan terhadap keanekaragaman, baik secara struktural maupun sosial. Dengan begitu, semangat Indonesia BISA akan sungguh-sungguh BerBISA bagi kemajuan pembangunan.

Di Indonesia, Keadilan Mungkin MAsih Entah Di Mana

Saturday, May 31st, 2008

Indonesia, Keadilan Mungkin  Masih Entah Dimana

Oleh Ben Abel*

Persoalan masa lalu memang bisa saja menjadi basi. Apalagi ketika para pembicara melulu berputar antara pembuktian siapa yang salah dan siapa yang benar semata. Padahal substansi persoalan sesungguhnya adalah rasa keadilan.

Sebutlah persoalan LEKRA lawan Manikebu yang sampai sekarang dianggap terus bermusuhan. Karena peristiwa ketegangan ide berkesenian antara dua kalangan ini terjadi persis di saat genting perebutan kekuasaan. Dimana Manikebu sempat dilarang dan para pencetusnya merasa diperlakukan tidak adil oleh sementara kalangan LEKRA yang aktif  ikut kampanye menentang Manikebu. Jadilah LEKRA dilihat sangat menikmati kesulitan yang didapati kalangan Manikebu.

Tidaklah heran bila kemudian kalangan Manikebu sama sekali tidak melakukan protes terhadap kebijaksanaan pemerintahan Orde Baru Soeharto yang membunuh PKI, dengan para anggota, simpatisan maupun anak cucu mereka. Dan yang masih hidup dibuang ke pulau Buru menjalani kerja paksa atau dipenjarakan, jika kemudian keluar mendapat perlakuan diskriminasi sepanjang hidupnya.

Sekarang setelah 42 tahun setelah 1965, kalangan LEKRA maupun Manikebu yang dimasa itu berusia belasan sampai 20©an turut meramaikan masa reformasi. Ini sebuah kesempatan bagi seluruh komponen bangsa dan negara Republik Indonesia memperbaiki diri dan bersiap menghadapi masa ke depan dengan tekad wajah yang lebih adil dan jujur terhadap sejarah dirinya sendiri. Peristiwa pembunuhan PKI dan sekian ratusan ribu bahkan juta rakyat Indonesia di masa awal pemerintahan orde Baru Soeharto, tidak bisa dianggap selesai  sebagai masa lalu yang kelam saja. Ini persoalan harga diri, harkat bangsa, dan tekad keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mereka yang menjadi korban harus mendapat perlakuan yang adil. Kita memang bukan hidup demi masa lalu, tetapi tanpa masa lalu takkan mungkinlah ada kita hari ini. Ia bukan saja sebagai pengertian, tetapi lebih lagi sebagai perilaku, adap dan semangat budaya nasional. Yakni ditegakkannya keadilan bagi mereka, massa rakyat Indonesia yang terlanjur dinistakan. Dan dari sekarang tiada penindasan, penjajahan dalam bentuk apapun lagi sesuai semangat cita©cita dari kemerdekaan dan kelahiran si Republik ini.

Aku rasa dengan itikat semangat seperti itulah A. Kohar Ibrahim menuliskan seri artikelnya mengenai pengalamannya sendiri, juga beberapa seniornya di LEKRA. Memang ia bisa terkesan seolah mengungkap borok dan dendam masa lalu, seperti yang Goenawan Muhamad ungkap. Tetapi pastilah beliau hanya sedikit lupa mengenai jantung hati persoalan keadilan yang masih entah dimana ini. Karena beliau juga dengan masygul mengunjuk keadaan wartawan Mochtar Loebis yang dipenjarakan pada masa pemerintahan Soekarno, konon tak pernah jadi perhatian kalangan LEKRA.

Apalagi kalangan Manikebu sebelum 1965 bukan cuma dilarang, tetapi juga dipecat dari jabatan dan dirongrong kalangan LEKRA. Memang di sini terjadi problematika. Aku tidak tahu pasti, apakah waktu itu Mochtar Loebis dijeblos penjara tanpa pengadilan? Apakah para penanda tangan Manikebu ditangkap dan dibredel tanpa pengadilan? Sekalipun tidak, toh mereka berhak merasa sudah diperlakukan tidak adil dan mungkin sekali merasa dendam.

Sehingga tak melakukan apa©apa, ketika kalangan LEKRA ditangkap dan dipenjarakan. Bahkan ada yang dieksekusi lalu keluarga, anak dan cucu keturunan mereka ikut masuk dalam penjara kebudayaan diskriminasi yang dibangun Orde Baru Soeharto. Kalangan Manikebu terutama seperti Goenawan Muhamad dan Arief Budiman alias Soe Hok Jin, pasti mengerti adanya kebijaksanaan yang melanggar hak azasi manusia yang sedang diberlakukan. Sampai di masa reformasi pun Presiden Abdul Rachman Wahid yang berusaha menghapuskan ketetapan MPR yang melegitimasi kebijakan©kebijakan diskriminatif terhadap rakyat yang ditindas rejim Orde Baru Soeharto, akhirnya menjadi tidak disukai dan dijatuhkan kalangan pewaris Orde Baru yang jelas menghendaki adanya Orde Baru.

Aku tidak tahu, apakah kalangan Manikebu ikut mengharapkan Tap MPR tersebut terus menindas demikian? Orang©orang LEKRA yang menjadi musuh mereka akan terus teramputasi secara politik dan sosial dan terpenjara dalam warisan kebudayaan Orde Baru. Bila duga dan sangkaan begini benar, maka betul©lah bahwa Manikebu memang parasit yang mendompengi politik kekuasaan para jenderal Orde Baru Soeharto. Karena bukan Manikebu yang menghancurkan LEKRA dan menangkap, membunuh serta meringkus semua keturunan orang LEKRA. Apalah Manikebu dibandingkan LEKRA. Manikebu bukan satu organisasi. Manikebu tak lebih dari sekedar OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) dalam konsep politik keamanan nasional Orde Baru Soeharto.

Maka begitulah, mana mungkin Manikebu, OTB yang dibesarkan Orde Baru melakukan apa©apa terhadap Orde Baru maupun warisan Orde Baru sekarang. Seperti Tap MPR yang jelas menindas dengan melegitimasikan pemberlakuan kebijaksanaan tidak adil, tidak manusiawi dan membunuh masa depan bangsa Indonesia. Dengan kebudayaan penindasan begini. Hasilnya bisa dilihat sekarang ini, siapa saja yang merasa besar dan kuat, begitu saja merasa paling benar dan syah memberangus yang kecil dan lemah. Hukum dan pengadilan bukanlah penegak kebiadapan budaya yang luhur. Semua telah menjadi sekedar alat dari kebijakan tersebut.

Jadi bisa saja kita mengatakan ini semua cuma urusan kakek©nenek saja. Seperti apa yang disampaikan Bonny Triyono. Artinya generasi sekarang sudah mati kebosanan mendengar pertengkaran LEKRA vs Manikebu. Ya, ini karena kurang menyadari saja, bahwa substansi persoalannya adalah ketidakadilan tadi. Bila generasi muda Indonesia di zaman reformasi sekarang tak bisa melihat hal begini, Orde Baru yang mereka lawan dan runtuhkan kemarin artinya memang sangat berhasil menciptakan mereka sehingga tanpa sadar malah menjadi pewaris Orde Baru itu sendiri.

Alangkah berserinya kemunafikan dan hipokrisi rasa keadilan kemarin yang dijadikan alasan melawan dan meruntuhkan Orde Baru Soeharto, ternyata hanyalah kepura©puraan. Sekarang justru menyambutnya sebagai ahliwaris semata. Sampai generasi kakek©nenek mereka para korban Orde Baru Soeharto yang berupaya menceritakan pengalaman mereka pun tidak dianggap. Seolah kakek©nenek bukan manusia seperti mereka saja, sehingga kakek©nenek tiada lagi punya hak, suara dan kewajiban seperti mereka. Padahal ini generasi yang menyerukan kesetaraan, demokrasi dan keadilan. Adakah seruan begitu cumalah kepura©puraan lagi?Di Indonesia, keadilan mungkin memang masih entah dimana.***

Catatan:

* Naskah Ben Abel, esais, penyair, bermukim di Amerika Serikat ini disiar Harian Batam Pos edisi cetak & online Minggu 22 Desember 2007.

Angkringan Jogja

Saturday, May 31st, 2008

<b>Angkringan Tenda Biru Gejayan, Deresan</b>

Angkringan berasal dari bahasa Jawa <i>Angkring
</i> artinya duduk santai dengan kaki di atas bangku.
Penjual angkringan biasanya menggunakan sebuah gerobak dorong yang
menjual berbagai macam makanan dan minuman. Dengan ceret khasnya yang
sebenarnya untuk menyiram tanaman plus
<i>anglo</i> tungku arang kayu. Penjualnya
kebanyakan asal Klaten atau Solo, biasa mangkal di setiap pinggir ruas
jalan di Jogjakarta.

Gerobak
angkringan tidak dicat, beratapkan terpal plastik. Satu gerobak ini
bisa memuat sekitar 8 orang. Kalau membludak, tinggal menggelar tikar
untuk lesehan di sekitar angkringan. Beroperasinya mulai sore hari,
hingga larut malam. Tetapi beberapa angkringan ada yang buka non-stop
24 jam. Angkringan menggunakan penerangan seadanya yaitu
<i>sentir</i> atau
<i>teplok</i> lampu minyak tanah. Semakin
temaram justru semakin syahdu, jika terlalu terang, suasana angkringan
malah terasa kurang pas.

Makanan
yang dijual angkringan pada umumnya adalah <i>sego
kucing</i> atau nasi kucing, goreng-gorengan seperti tahu
tempe bacem, bakwan dan mendoan, sate usus ayam, sate telor puyuh,
kripik, rambak, kacang goreng dan lain-lain. Nasi kucing di sini
maksudnya, nasi yang besar porsinya untuk ukuran kucing. Lauk pauknya
pun khas selera kucing, seperti oseng-oseng kacang panjang atau buncis
yang diselingi sambal ikan teri
atau<i>gereh</i>. Soal rasa memang bukan
yang utama. Tetapi harganya yang lumayan murah. Tampilan nasi kucing
biasanya dibungkus dengan daun pisang dan perpaduan kertas koran. Untuk
minuman yang tersedia di angkringan, beraneka macam beserta variasinya
seperti teh, teh jahe, jeruk, kopi, kopi jahe
<i>wedang</i> tape,
<i>wedang</i> jahe dan susu.

Harganya
yang murah dengan suasana kekeluargaan, membuat konsumen warung
angkringan ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang
bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, mungkin juga seniman hingga para
eksekutif. Meskipun tidak saling mengenal antar sesama pembeli dan
penjual sering terjadi obrolan santai. Sembari menunggu si penjual
membuatkan minuman atau membakar lauk pesanan kita seperti baceman usus
ayam, ceker, atau kepala ayam di atas anglo.

Topik
pembicaraan seputar angkringan bisa apa saja, dari yang serius seperti
masalah yang sedang aktual, berbagi pengalaman pribadi, atau hanya
berkelakar saja. Tak heran para pengangkring bisa betah berlama-lama
hingga larut malam. Angkringan menjadi sangat populer, kemungkinan
bukan hanya karena fungsinya yang sekedar melayani mereka yang
kelaparan di tengah malam dengan harga terjangkau. Ada fungsi sosial
emosional lain yang juga terlayani di sini. Ibaratnya, tempat rekreasi
batin dengan sarana obrolan santai di angkringan.

Di
Jogja ada beberapa angkringan yang cukup kondang. Di antaranya
angkringan Lik Man di dekat stasiun Tugu, angkringan di seputaran
Alun-alun Selatan juga angkringan Deresan. Nah, omong-omong soal
angkringan Deresan, sebenarnya agak kurang pas disebut angkringan.
Malah lebih pas dibilang warung nasi mahasiswa. Karena banyak mahasiswa
makan di sini, nasi kucingnya juga sudah pakai piring. Pelanggan
angkringan Deresan ini kebanyakan mahasiswa, karena dekat engan kampus
Atma Jaya, Universitas Negeri Jogjakarta, dan Sanata Dharma. Juga
harganya murah meriah.

Angkringan
Deresan milik Pak Surono yang asli Jojga ini hadir sekitar tahun 1992.
Lokasinya di pinggir jalan Gejayan yang kini berganti nama jalan
Affandi yang menuju ke Deresan. Lebih sering disebut angkringan tenda
biru Deresan. "Tak ada yang istimewa selain harganya yang terjangkau
dan penyajian masakannya yang selalu hangat," ujar Endro putra pak
Surono yang kini menjadi penerusnya. Sejak dulu, nasi kucing,
oseng-oseng kacang panjang, sambel teri, sampai gorengannya disajikan
masih dalam keadaan hangat. Minuman yang tersedia hanya teh, jeruk dan
kopi panas atau dingin.

Berbeda
dengan angkringan biasanya, jarang yang berlama-lama ngobrol di sini.
Tak ada gerobak angkring, yang dari dulu juga hanya sebagai penanda.
Karena peminatnya sangat banyak, lagi pula antrian yang panjang membuat
kita harus tenggang rasa untuk cepat-cepat gantian. Di sore hari masih
dijual kurang lebih 150 nasi kucing versi bungkusan, kalau sudah habis
tinggal versi piringan. Dalam sehari angkringan ini bisa menjual 400an
porsi dalam semalam, bahkan lebih.

Sekarang
lokasinya pindah dari pinggir jalan Gejayan, agak masuk ke gang. Baru
beberapa bulan ini pindah ke gang Bakuh, kurang lebih 100 m dari lokasi
semula. Jam buka warung ini juga dipercepat dari jam 05.00 sore sampai
jam 11.00 malam saja. "Karena lokasinya di tengah pemukiman penduduk,
biar tidak terlalu mengganggu,"aku Endro. Yang datang ke sini,
kebanyakan mahasiswa atau mereka yang kangen akan nostalgia saat kuliah
pernah makan di sini. Kalau sudah jam makan malam antrian terlihat
semakin panjang. Untuk harga nasi kucing sekarang Rp.1000. Serba
gorengan dihargai Rp300 sebuah. Sedangkan lauk pauk telur ayam, kepala,
dan sate puyuh sebuahnya dihargai Rp1000.

Wijoseno

Regenerasi

Saturday, May 31st, 2008

Sesungguhnya Negeri
ini membutuhkan sosok pemimpin muda yang
inovatif,tegas,kharismatik.lepas dan bebas dari keterikatan golongan
,menyatu,membaur dengan rakyat tanpa sekat
pemisah diantaranya.Golongan muda untuk saat ini sepertinya masih sulit
untuk tampil dalam panggung kepemimpinan negeri ini.Hal ini karena
dominasi golongan tua yang masih enggan dan tidak rela menyerahkan
tampuk kepemimpinan kepada golongan muda meski hal tersebut dalam upaya
regenerasi kepemimpinan negeri ini.

   

Golongan
muda harus sabar menunggu sampai golongan tua tersebut lengser atau
dilengserkan seperti di awal orde reformasi.Golongan tua ini seharusnya
bercermin,masihkah pantas menjadi pemimpin negeri yang besar ini(bisa
besar wilayahnya dan juga besar masalah yang dihadapinya).Adakah mereka
berpikir di usia yang semakin senja akankah mereka sanggup
menyelesaikan masalah yang menimpa negeri ini?.

   

Menurut
saya golongan tua ini lebih tepatnya bila hanya sebagai pembimbing dan
penasehat kalau dalam pelaksanaannya,gologan muda mengalami kesulitan
atau penyimpangan kebijakan.

   

Tongkat
estafet kepemimpinan negeri ini seharusnya sudah waktunya berpindah
ketangan golongan muda.Tinggal tunggu waktu dan kesadaran golongan muda
untuk tampil di panggung kepemimpinan negeri ini.

 

Sebenarnya
rakyat sudah bosan dengan calon-calon pemimpin negeri ini,mereka
mayoritas adalah golongan tua yang tidak bisa lepas dengan berbagai
masalah yang dihadapi hingga saat ini.Berbagai masalah masa lalu yang
masih mengambang hingga saat ini tidak akan pernah selesai apabila
kepemimpinan negeri ini masih dipegang oleh orang-orang masa lalu
juga.Hal ini di karenakan masih banyak oknum-oknum yang
bermasalah,masih menjabat di pos-pos strategis.Ini adalah strategi
mereka untuk menggagalkan segala bentuk upaya penyelesaian masalah yang
akan menyangkut mereka dan kroni-kroninya.

Komersialis, Idealisme Media Masa Kini

Saturday, May 31st, 2008

Sudah menjadi kisah usang media mesti mengalami pemandulan dan
pemberangusan total oleh kekuasaan pemerintah. Kebenaran dan
ketidakbenaran rujukannya adalah pemilik kekuasaan. Ketika itu pula
informasi mesti bertujuan mengamankan kepentingan kekuasaan. Dan bila
muncul informasi yang tidak sesuai dengan selera atau kepentingan
pemerintah, akan dikategorikan penghinaan. Ingat pula, penentu kategori
ini tentu saja bukan publik, tapi si pemilik kekuasaan.

Dan
akibatnya bisa dituntut. Serta ancaman mengerikan Surat Izin Usaha
Penerbitan Pers, (SIUPP) sebagai syarat mutlak kehadiran media, bisa
dicabut oleh sang pemilik kekuasaan. Wajar saja, media yang ingin tetap
hidup di era seperti itu mesti menahan diri berpihak penuh untuk
idealisme kepentingan publik.Apalagi ketika di hadapkan pada benturan
kepentingan penguasa. Jika pun memang masih ada media yang berusaha
merealisasikan idealisme untuk kepentingan publik sebagai tujuan besar
dan utamanya, akan berhadapan dengan kesediaan terbunuh. Dengan keadaan
seperti itu, wajar pula umumnya media menjadi kumpulan aktifitas
jurnalis Kepiting atau jurnalis Onta.

Namun, masa
sedemikian sudah berakhir dengan ditiadakannya SIUPP, lalu
dibubarkannya instansi pemerintah yang mengenggam kekuasaannya, yakni
Departemen Penerangan. Lalu media massa tumbuh cepat, tak hanya di
tingkat pusat juga di daerah. Media berbentuk cetak maupun media
penyiaran apakah radio atau televisi. Tak terkecuali juga di Kepulauan
Riau (Kepri) dengan based dominannya, Batam.

Siapapun bisa
melahirkan media. Beragam media cetak pun patah tumbuh hilang berganti.
Baik berbentuk edisi harian koran maupun tabloid, serta majalah. Banyak
yang bisa disebutkan, namun di antaranya barangkali kita masih ingat
ada koran Lantang. Atau majalah Utama, juga Tabloid, Perempuan.

Yang
menjadi pertanyaan adalah seberapa kuat media itu mampu tumbuh dan
berkembang atau bertahan. Kenyataannya, tidaklah banyak. Tiga media
yang disebutkan di atas, adalah contoh dari banyak media yang tinggal
untuk dikenang, alias sudah almarhum. Dan selain media yang Anda baca
sekarang ini, yang menemani kehadirannya memenuhi kebutuhan media di
daerah ini, adalah Sijori Mandiri, Media Kepri, Pos Metro,Tribun, serta
Batam News. Setidaknya itu yang masih bertahan. Ke depan? Entahlah!

Yang
menjadi penentinya, berupa kekuatan penguasaan pasar, permodalan,
kelengkapan sumberdaya manusia, networking dan kepercayaan publik.

Tak
terkecuali perkembangan media penyiaran. Kita sudah mulai terbiasa
dengan kehadiran televisi lokal, seperti Batam TV, Semenanjung TV .
Warna lokal akan menjadi kekuatan media tersebut untuk mendapatkan
pasar. Begitu pula konsepsi televisi berjaringan dilaksanakan akhir
tahun ini, juga akan menumpu pada muatan lokal. Dan bukan hanya itu,
juga disertai tidak lagi pemusatan kepemilikan di tingkat pusat saja.
Melainkan sudah berpendar ke berbagai daerah. Karenanya sudah menjadi
basi, televisi yang bersiaran dari Jakarta, semisal SCTV bisa memasuki
seluruh wilayah tanah air, tanpa membuat anak jaringan di daerah.
Cerita perambahan dari media televisi dari Jakarta akan menjadi
romantis kekuasan masa lalu.

Adalah fakta pula,
media-media akan terus berkembang secara kuantitas. Namun, pertanyaan
penting turut menunggu jawab, perkembangan itu apakah diikuti
perkembangan kualitas media dengan patokannya idealisme pers?

Tentulah
sudah sangat umum diketahui makna idealisme pers, memuarakan tujuan
aktivitas jurnalistik untuk kepentingan publik. Karena pers dipercaya
memiliki kekuatan luar biasa menggalang opini publik. Selanjutnya
sesuai perjalanan waktu akan membangun nilai yang menjadi anutan
publik. Bahkan, ada pula orang yang beranggapan, nilai yang dibangun
oleh media bisa mengkristal menjadi ideologi.

Lalu, sejauh
mana kita selaku insan pers menempatkan diri untuk tidak terjebak dan
terkontaminasi dari kepentingan-kepentingan di luar konsep idealisme?
Terutama sekali para pemilik media, seberapa kuat mampu tetap kukuh?
Meskipun dalam tataran idealis, jajaran pemilik media mestinya
mengagungkan pemahaman bahwa redaksi sebagai kelompok yang melahirkan
produk idealisme itu. Wujudnya, tentu saja tidak akan mengintervensi
kebijakan redaksi, sekalipun bertentangan dengan kepentingan dirinya,
maupun kepentingan komersialnya.

Namun, mari kita bicara
tentang penerapan idealisme pers. Yang akan tercapai, selama pers
membingkai langkah kerjanya secara profesional dengan etika yang
disepakati dan dibuatnya sendiri, yakni etika pers. Baik dalam
pencarian berita, penyajian berita dan pasca penyajian berita.

Dalam
proses pencarian berita sekalipun investigatif, jurnalis tentu telah
punya teks book tentang cara-cara jujur, praduga tak bersalah, tidak
mengintip apalagi memergoki narasumber memaksa konfirmasi. Begitu pula
penyajian berita hampir semua etika pers menekankan aspek-aspek
pentingnya fakta adalah keutamaan berita. Menghindari sikap yang dapat
mengimplementasikan nilai-nilai negatif pada individu dan masyarakat.
Tak mencampuradukkan fakta dan opini. Dan keseimbangan dalam menyajikan
berita (cover both side). Begitu pula pasca penyajian berita.

Media
profesional segera melakukan ralat pada pemberitaan atau penyiaran yang
terbukti tidak benar, serta memberikan kesempatan hak jawab secara
proporsional kepada sumber atau obyek berita.

Mari pula kita
simak implementasi nilai-nilai itu pada produk jurnalistik yang
dilahirkan. Baik oleh media cetak, radio maupun televisi.

Di era persaingan antar media begitu kuat saat ini.  Kepentingan ekonomi menjadi urutan utama perjalanan langkah media.

Karena
itu untuk mampu bertahan dan menang dalam penguasaan pasar, tidak cukup
dengan idealisme pers, melainkan mesti menganut idealisme komersialis.

Dalam
anutan sedemikian, media akan bertumpu pada apapun yang disuka oleh
publik. Meski pun tak jarang media salah menafsirkan selera publik yang
sesungguhnya.

Sehingga apa yang disajikan justru melabrak
nilai-nilai yang dianut publik, yang kadang membuat sebagian publik
muak, mual bahkan dicederai.

Namun mengedepankan apa-apa yang mampu menjadi sensasi sekalipun bermuatan ghibah, sudah menjadi landasan langkah media.

Dalam bingkai idealisme komersial, ukurannya adalah, yang penting laku dengan menghitung seberapa jumlah oplah.

Atau rating tinggi yang akan menentukan pasokan iklan. Yang selanjutnya menjadi darah bagi penghidupan media.

Meskipun
melangkahi ukuran-ukuran idealisme dalam etika pers. Entah menyadari
ataukah tidak, dengan idealisme seperti itu, media telah melakukan
kekerasan.

Tentu saja bukan dengan otot, bedil dan parang, tapi melalui tulisan memiliki dampak luar biasa. 

Apalagi,
pers yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat yang pasif menerima
sajian pers sebagai sebuah kebenaran, tanpa lebih dulu mengkritisinya.

Tak terkecuali di daerah, termasuk Batam. Media cetak, maupun penyiaran memiliki “dosa” ini.

Mari
kita ingat tayangan televisi. Tak jarang penyajian foto wajah tersangka
yang tidak di-blur-kan. Sorotan kamera justru difokuskan untuk
memampangkan wajah tersangka.

Atau pertanyaan menghakimi
narasumber tersangka kejahatan. Serta penjabaran kasus pemerkosaan
disampaikan tak jarang diekspos secara ”bergairah”.

Mengolok-olok tubuh perempuan dengan ekpos kata-kata ”jumbo” untuk dada perempuan, ”bahenol”.

Lalu
kapak, beliung dan tubuh berlumuran darah terlanjur menjadi teman
penonton ketika makan siang. Atau ketika akan makan malam. Namun,
ironisnya tayangan itu tidak lagi menyurutkan selera untuk menikmati
santapan.

Terlanjur menjadi sebuah kebutuhan yang mengetahui
hal-hal mengerikan yang terjadi, apalagi jika berdekatan dengan kita.
Apakah berdekatan secara jarak, maupun dekat secara emosional.

Juga
hal-hal yang berbau sensasi, bahkan tak jarang vulgar, serta hal-hal
yang bermuatan ghibah mampu terlanjur dinilai pemilik media menjadi
dayatarik publik.

Itulah fakta, produk media kita hari
ini.Tak usahlah disebutkan deretannya. Setiap kita tentu sudah tahu
sama tahu atau tst lah!.Karena idealisme komersial yang kebanyakan
menjadi anutannya.***


Oleh : Lisya Anggraeni { Penulis, Jurnalis, Wakil Ketua KPID Kepri }

Lisya_kolega_kpi_rakor_banten_2007

4 Lilin

Saturday, May 31st, 2008

Ada 4 lilin yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh.

Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka

Yang pertama berkata: "Aku adalah Damai."  "Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!"
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: "Aku adalah Iman."  "Sayang aku tak berguna lagi."  "Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala."
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:"Aku adalah Cinta"   "Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala."  "Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna."
"Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya."
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata:  "Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!"

Lalu ia mengangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:

Jangan takut,
Janganlah menangis,
selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

" Akulah H A R A P A N "

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah H A R A P A N.
yang
ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi
alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu
menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!!!!!

Bali Kids

Saturday, May 31st, 2008

 

  Beginilah generasi anak Bali yang selalu teguh dalam menjaga kebudayaan mereka. Kebudayaan yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka di jaman seperti sekarang ini. Kebudayaan yang sudah diperkenalkan oleh leluhur mereka sejak mereka masih anak anak kecil. Sekarang bagaimana dengan putra putrid ditanah jawa ini? Apakah mereka bisa bermain gamelan yang merupakan kebudayaannya seperti anak anak Bali?Berilah contoh pada putra putrid kita semua. Agar mereka tahu seperti apa sebenarnya kebudayaan kita dan agar mereka tahu dibudaya mana sebenarnya mereka bersosialisasi.


Anak anak Bali mayoritas bisa memainkan alat tradisional dari kebudayaan mereka dengan diberikan contoh oleh kedua orangtuanya yang sudah mewarisi budaya itu dari para leluhur mereka. Padahal anak anak di Bali juga sama dengan anak anak di Jawa. Mereka bisa bermain Play stations dan sama sama suka nonton naruto dan drgaon ball, tapi mereka tidak lupa dengan budaya mereka sendiri……


Okno_baliok04_1

Okno_baliok05_1

Okno_baliok06

Okno_baliok28

Okno_baliok30






Bangunlah Jiwa Pemuda Pemudi Indonesia…………….

Bangkitkan semangatmu dengan perbuatan yang baik, bukan hanya dengan lisan dan tulisanmu……..



Cahaya terang gilang gemilang, matahari pagi

Mambuka hari menyongsong janji, bagimu Ibu Pertiwi

Rumput liar riang bermimpi disela kicau burung

Sayang…..dinafasmu, dipundakmu,terletak martabat bangsa

Tengadahlah Tunas Nusa………..

Kibarkan panji, kibarkan bendera, dirgahayu tanah ini..

Nyanyikan lagu bagimu negeri

Dengan semangat didadamu….

Berpijar dan bersinar untukmu, Indonesia………

Persetan dengan hidup

Sunday, January 27th, 2008

JameelInilah hidup yang selama ini aku jalani dan aku terus tempuh yang aku sendiri tidak tahu entah sampai kapan aku harus seperti ini. Sejak aku pergi dari kampong halamanku di sebuah

kota

kecil di negeri ini, aku belajar untuk terus bertahan hidup dengan dan menggunakan segala cara. Enam tahun lamanya aku pergi dari kampoeng halamanku, dan enam tahun lamanya juga aku hidup dalam kesendirian dan tanpa arah tujuan. Banyak orang yang bilang hidup dalam kesendirian bukan berarti dia selalu kesepian. Tapi rasana itu hanya untuk mereka yang bias menikmati kesendirian itu, dan untuk mereka yang bisa memahami apa arti dari menyendiri. Dan itu bukanlah aku, karena aku sering terbawa oleh pikiranku untuk melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan dalam kesendirianku. Bagiku kesendirian adalah tanpa teman, saudara, atau bahkan mungkin tanpa siapapun yang menemani. Dan itulah aku yang selalu menghindar dari keramaian, karena kau tidak tahu apa arti keramaian yang menurut mereka bias membuat seseorang merasa bahagia dalam hidup. Tapi tidak denganku…………..!!!! Kenapa…??? Jangan pernah menanyakan hal itu kepadaku, karena kau tidak akan bisa menjawabnya. Orang lain menyendiri jika mereka sedang mengalami suatu masalah yang serius. Tapi tidak dengan aku, karena kesendirian adalah kehidupanku sehari- hari dan aku sendiri tidak tahu mengapa aku harus seperti ini. Karena aku egois…?? mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa aku lebih senang hidup menyendiri.

Aku sadar, aku sering merasa iri melihat mereka yang bisa hidup diantara keduanya. Aku melihat mereka selalu terlihat bahagia, mereka selalu rukun antar sesama, dan mereka bisa hidup berdampingan satu sama lain. Dan itulah hidup yang seharusnya aku jalani dan aku tahu itu. Tapi mengapa..?? jujur aku katakan, aku benci jika melihat orang lain merasa bahagia dengan kehidupan mereka. Aku selalu berfikir, kenapa aku harus hidup seperti ini..?? hidup dalam kesendirian, hidup dalam khayalan, hidup dalam kebimbangan, dan hidupku terasa tiada berguna.

Seseorang akan selalu berjuang demi masa depan mereka, dan itulah yang dilakukan oleh setiap insan manusia di dalam dunia. Dan aku, aku hanya memikirkan diriku sendiri aku tiada pernah memikirkan akan hari esok yang aku belum tahu akan seperti apa. Aku tiada lain hanyalah orang yang hidup sebatangkara dan lebh dari sekedar hidup dalam kesendirian. Kesendirian membuatku merasa bingung dalam menentukan pilihan hidup. Mereka mungkin bisa bertanya atau meminta nasehat pada orang lain, tapi aku haruskah aku bertanya kepada komputer..?? haruskah aku bertanya kepada televisi..?? haruskah aku meminta nasehat pada tempat yang selama ini aku tinggali..?? yah…..aku tiada pernah merasa kalau hidup yang selama ini aku jalani hanyalah perjalanan, dan sekarang, esok atau lusa atau mungkin kapan saja aku akan sampai tujuan dan tempat yang tertuju tidak akan mungkin sama dengan apa yang aku harapkan selama ini. Karena aku selalu lalai dalam menentukan arah dan tujuanku di dalam hidup. Aku tahu itu semua tapi aku sampai sekarang belum bisa merubah cara hidupku.

Pernah ada seseorang bertanya kepadaku ” bagaimana kamu bisa punya teman? Bagaimana bisa bergaul? Bagaimana kamu akan mendapat pengalaman?dan bagaimana mungkin kamu akan mendapatkan teman yang mungkin bisa menemanimu selama kamu hidup? Kalau kamu hanya diam, kalau kamu hanya menunggu,bahkan kamu tidak pernah sekalipun keluar dari kamar kamu, Bagaimana mereka akan tahu siapa kamu???”. Dan aku tahu itu, semua jawaban hanya ada pada diriku tapi hatiku selalu bilang ”persetan dengan hidup”. Entah kapan aku bisa merubah haluan hidupku yang sudah jauh melenceng dari garis orbitnya. Mudah- mudahan aku bisa merubah hidupku, dan menjadi orang yang bisa memahami apa arti hidup……………… Yang penting aku masih percaya akan adanya Allah SWT yang selalu melihat dan mengetahui apa yang aku lakukan. Mungkin hanya kepada-Nya aku harus minta pertolongan, untuk membukakan pintu hatiku yang selalu tertutup. Setan dan Iblis yang ada dalam hatiku masih teramat kuat untuk aku lawan sendirian. Dan hanya Dia-lah yang bisa membantuku dengan segala usaha yang aku lakukan. Amin…………………………………..

Tolong nasehati aku, tolong beritahu aku bagaimana caanya merubah hidupku yang hampa, kalau perlu bencilah aku supaya aku sadar bahwa hidup bukanlah hanya memikirkan diri sendiri……..!!!!!!!

Maaf

Thursday, January 10th, 2008

M175Tanggal 03 Februari 2008, bagiku dan mungkin bagi semua pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan IlmuPolitik Universitas Padjadjaran adalah hari yang amat sangat melelahkan. Bagaimana Tidak, dari jam 08.00 pagi sampai jam 18.30 aku dan kawan- kawan harus duduk diam dan mendengarkan ceramah dari Pimpinan dilingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.

 

Hari minggu, tanggal 03 Februari 2008, jam 07.00 wib aku berangkat dari Dago-Bandung (rumahku) ke Jatinangor-Sumedang bersama dengan teman- temanku sekantor. Sesampainya di Jatinangor, semua pegawaipun disuruh masuk ke ruang rapat (aula) dengan diberi alat tulis. Tadinya sih aku udah nerka kalau semua pegawai bakal di kasih materi Manajemen Perkantoran Modern, karena undangannya, Diklat Perkantoran Modern Administrasi. Ehhh…ternyata nangis lagi- nangis lagi, itulah yang ada dalam fikiranku. Bagaimana tidak, begitu aku masuk ruangan aku melihat layar sudah lengkap dengan sound system dan aku kenal dengan display yang ada di layar, yah….itulah yang akan mengajak aku dan semua teman- temanku untuk merenungi tentang apa yang telah kita lakukan selama kita hidup di dalam dunia ini. Melalui terapi The ESQ Way 165 pimpinan Bapak Ary Ginanjar Agustian.

 

Tapi syukurnya, para pakar hanya diberi waktu sekitar satu jam, jadi ga begitu tersentuh. Lagian aku dan semua teman- temanku udah pernah ikut training The ESQ Way 165. Pukul 12.00 WIB moderator memanggil salah satu pembicara dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, memang beliau udah Guru Besar sih…Emiritus lagi. Tapi toh cara penyampaian materinya sama aja kayak dosen muda yang masih magang. Udah cepet, ga jelas, banyak bercanda, banyak tertawa wah udahlah pokoknya kalau aku ditanya tentang apa yang sudah beliau sampaikan ke aku dan teman- teman, aku bakalan geleng kepala dan angkat tangan.

 

Jam 12.00 WIB lebih perut sudah minta jatah, tapi kok perasaan ga selesai- selesai ada rehat atau ga….? pikiran mah udah kemana…………………..Jam 12.45 WIB aku dan teman- teman baru keluar untuk makan dan sholat sampai jam 13.45 WIB. Jam 14.00 wib sampai jam 17.00 wib aku dan teman- temanku hanya bisa duduk diam dan mendengarkan ceramah tentang materi yang berkaitan dengan Manajemen Perkantoran Modern.

 

Dan sampailah pada puncak acara dimana aku dan teman- temanku sudah cape menanti acara ini. Dan saat itu juga datang para pejabat FISIP Unpad diantaranya Dekan, PD II, PD III, dan para KaSubBag dilingkungan FISIP Unpad. Memang acara ini tidak begitu berkesan tapi sangat menentukan aku dan semua temanku, karena acara ini adalah tentang keputusan mutasi atau rotasi pegawai yang dilakukan secara serentak oleh Pejabat FISIP Unpad. Dalam acara tersebut, aku hanya berharap agar supaya teman- temanku yang sudah lama bersama- sama kerja sekantor dengan aku tidak dialihtugaskan. Karena aku dan teman- temanku sudah seperti keluarga sendiri yang saling memahami satu sama lain, bahkan aku sudah menganggap mereka seperti kakakku sendiri yang bisa memberi nasehat dan melindungi aku. Tapi ternyata, hampir setengah dari jumlah pegawai yang ada di Kampus Dago pindah ke Jatinangor. Da mereka yang pindah adalah para seniorku yang sudah banyak menuntunku, memberiku ilmu, memberiku pengalaman, memberiku kenyamanan dan mereka yang mengerti aku. Kang Denih, Kang Bambang Khaerudin, Kang Yana Mulyana, Kang Asep Saefudin Anwar, Kang Agus Taryana, Kang Deni Kurnia, Mas Mukharis, dan yang sudah aku anggap seperti ibuku sendiri Ibu Yuningsih yang selalu memarahiku, menasehatiku, cerewet dan bahkan mereka galak kepada aku, tapi semua yang mereka lakukan kepadaku itu demi kehidupanku yang lebih baik. Aku pasti akan merindukan mereka semua……………

 

Dan aku sendiri merasa bingung dalam mutasi tersebut, karena aku juga harus pindah dari unit kerjaku yang sudah membesarkanku di FISIP Unpad itu sendiri. Aku harus pindah ke unit kerja lain yang aku sama sekali belum pernah tahu tentang bagaimana aku harus bekerja di tempat itu, dan aku hanya bisa bertanya ke diri sendiri “ kenapa bukan mereka (Sony Sopiandy atau Ervan Laksana) yang pindah ke unit itu?, padahal mereka (Sony Sopiandy atau Ervan Laksana) jauh lebih senior, lebih menguasai komputer, lebih berpengalaman dan aku rasa mereka lebih berhak untuk unit kerja itu”. Terasa mimpi bagi orang seperti aku harus pindah ke unit kerja itu, tapi inilah kenyataannya, aku harus menerima walaupun aku tahu mungkin aku sudah melakukan hal yang bisa membuat temanku sendiri merasa………….??? Tapi aku tidak bisa berbuat banyak, karena itu semua bukan keinginanku, dan bukan keputusanku. Aku hanya berfikir mungkin itulah jalan hidup yang harus aku lalui, aku harus pisah tempat dengan para seniorku yang sudah membimbing aku dari sejak mulai aku masuk menjadi pegawai di FISIP Unpad. Walaupun tidak semua seniorku pindah ke Jatinangor, masih ada Kang Ervan Laksana dan Kang Sony Sopiandy yang masih bisa membimbingku.

 

Bahagia…? aku akui memang ada rasa bahagia saat aku mendengar bahwa aku dipindahkan ke unit kerja yang baru. Tapi dibalik itu aku merasa ada sesuatu yang membuatku tidak enak hati. Maaf…..Aku melangkahi seniorku yang mungkin mereka juga ingin pindah unit kerja untuk cari suasana baru. Tapi jujur aku katakan di blog ini, aku tiada pernah tahu kalau aku akan dipindahkan ke unit kerja itu. Karena itu semua menurutku mustahil, golongan I-a jadi staf keuangan….he..he…he… siapapun yang memutuskan itu, aku rasa mereka perlu belajar lebih banyak lagi. Golongan I-a sih cocoknya jadi tukang sapu ama tukang setempel he..he..biar ga berat tanggungjawabnya.

 

Jam 18.30 wib aku pulang dari Jatinangor bareng temenku, Sialnya aku harus mendampingi teman perempuan yang baru bisa naik motor, dan tidak mau dibonceng. Apa boleh buat, yang tadinya mau cepet- cepet, terpaksa harus pelan- pelan sambil terus mengikuti teman perempuan. Sesekali jantung berdetak saat harus melihat dia (teman perempuan) kadang- kadang tidak bisa menjaga keseimbangan dan oleng. Tadinya mau aku paksa supaya mau dibonceng, tapi dia tetap tidak mau dan temanku bilang “biarin aja lagi, nanti juga kalau udah jatuh juga kerasa. Kalau terus dibonceng gimana dia mau punya keberanian”. Walaupun takut melihatnya tapi aku coba percaya sama temanku, dan akhirnya nyampai rumah juga walaupun harus menempuh waktu lebih dari satu jam dan udah lupa atau bahkan mungkin ga tahu definisi dari Manajemen Perkantoran Modern yang sudah disampaikan oleh para pembicara. Karena para pembicara tidak pernah ngejelasin apa yang dimaksud dengan Manajemen Perkantoran Modern itu sendiri atau mungkin aku duduknya paling belakang yah…, jadi ga kedengeran.

 

But, Alhamdulillahirobbil’alamin……………………………….

 

I think I can, I know I can positive thinking is half the work…….

 

Life isn’t about finding yourself, Life is about creating yourself……

 

Courage does not always roar. Sometimes courage quiet vioce at the end of the day saying, I will try again tomorrow……………………..

 

Terima kasih ya Allah………..Engkau yang tahu tentang semua ini.